Renitamujahidahcekiceki's Blogs

Dakwah Is My Life

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut
sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf
shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang
ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera
pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukanTuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama.
Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak
dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan
tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut
beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah
besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang
keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu
di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman
munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur,
sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos
pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati
jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi
mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya
ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka,
janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan
ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya
lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu
banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak
pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan
selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-
nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya
sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah
beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang
yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal
mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan
tertinggal di belakang para pejuang.
Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau
letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang
asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah
pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani
tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua
sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang
membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat
ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya? Malam-
malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan.
Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani
meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri
secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan
melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000
remaja mengidap putau. Dari 1.500 responden usia SMP &
SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya
setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan
dengan perkosaan.
Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata
dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya
di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat
atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak
kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak
jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana
getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut”
menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian
perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang
mengatakan ”
Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan
perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton
akting mereka tidak dilaknat?” Ataukah taqwa berlaku saat
berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini
tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan
tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH
disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu
tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan : sangat malu
untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan
jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga
didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah
pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian
orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau
miliki.
Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1
milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1
milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam,
sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah
lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya
membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan
yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar
hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu
maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah
itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose
lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu
mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam
adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan
ayah mertua?”
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat
lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau
fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari
kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya
dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam
aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan
masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat
mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir?
Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau
lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan
mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak
mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa
“westernnya”. Engkau akan menjadi faqih pendebat yang
tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan
perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya
bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah
engkau punya harga diri.

Tausiyah alm K.H. Rahmat ‘Abdullah

2 Komentar

  1. mmmm… mlmmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: